10 Cara Mengatasi Hipotensi yang Penting Diketahui

Hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang berada di bawah 90/60 mmHg. Meski penyakit ini umumnya tidak berbahaya, hipotensi dapat menyerang siapa saja. Karena itu, penting mengetahui cara mengatasi hipotensi.

Hipotensi dianggap tak berbahaya jika tidak ada gejala yang muncul. Namun, ketika tekanan darah rendah menyebabkan gejala, itu bisa menjadi tanda bahwa darah tidak cukup mengalir ke organ.
Jika disertai gejala terjadi terlalu lama, hipotensi dapat menyebabkan masalah yang lebih serius. Menurut laman Healthline, masalah yang lebih serius akibat hipotensi, yakni gagal ginjal dan serangan jantung.
Maka dari itu, setiap orang perlu mengetahui dan memahami cara mengatasi hipotensi. Simak uraian artikel di bawah ini untuk mengetahui informasi lengkapnya.

Cara Mengatasi Hipotensi

Kebanyakan dari orang dengan riwayat hipotensi tidak memerlukan obat atau intervensi medis lainnya untuk meningkatkan tekanan darah. Sebab, banyak cara mengatasi hipotensi, termasuk seperti yang ditulis dalam laman Medical News Today berikut ini:

1. Perbanyak minum air putih

Dehidrasi terkadang dapat menyebabkan tekanan darah rendah. Beberapa orang yang mengalami hipotensi bahkan juga kerap didiagnosis mengalami gejala dehidrasi ringan.
Seseorang juga bisa mengalami dehidrasi karena kehilangan air terlalu cepat. Ini bisa terjadi akibat efek dari muntah, diare parah, demam, olahraga berat, dan keringat berlebih.
Obat-obatan seperti diuretik juga dapat menyebabkan dehidrasi. Karena itu, usahakan untuk minum lebih banyak air dengan menggunakan botol air portabel. Gunakan alarm atau timer untuk mengingatkan mengonsumsi air putih.

2. Makan makanan yang seimbang

Tekanan darah rendah dan efek samping lainnya dapat terjadi jika tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Rendahnya kadar vitamin B12, asam folat, dan zat besi dapat menyebabkan anemia.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak dapat membuat cukup darah dan dapat menyebabkan tekanan darah rendah. Apabila sedang melakukan diet, dokter mungkin akan merekomendasikan perubahan pada pola diet harian dan disarankan untuk mengonsumsi suplemen.

3. Makan dalam porsi kecil

Seseorang bisa mengalami hipotensi setelah makan dalam porsi besar, meskipun ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang telah berusia lanjut.
Ini terjadi karena darah mengalir ke saluran pencernaan setelah makan. Karena itu, detak jantung akan meningkat untuk membantu menyeimbangkan tekanan darah.
Agar dapat mencegah hipotensi terjadi akibat makan, maka usahakan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi kecil. Selain itu, membatasi karbohidrat juga dapat membantu menjaga tekanan darah lebih stabil setelah makan.

4. Batasi atau hindari alkohol

Minum alkohol dapat menyebabkan dehidrasi. Selain itu, alkohol juga dapat berinteraksi dengan obat-obatan dan menyebabkan hipotensi semakin parah.

5. Makan lebih banyak garam

Natrium dapat membantu meningkatkan tekanan darah. Namun, apabila dikonsumsi berlebihan bisa meningkatkan tekanan darah terlalu banyak. Hal ini juga dapat menyebabkan penyakit jantung. Tanyakan kepada dokter berapa banyak jumlah garam yang tepat untuk dikonsumsi.
Karena itu, disarankan untuk memasak makanan sendiri sebab ini dapat membantu seseorang mengontrol berapa banyak garam yang akan dikonsumsi. Hindari makanan asin olahan dan olahan lain dengan kadar garam yang tidak diketahui.

6. Periksa gula darah

Diabetes dan kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan hipotensi. Penipisan volume dapat terjadi dari diuresis yang mengikuti kadar gula darah tinggi. Ini adalah saat tubuh mencoba mengeluarkan glukosa melalui peningkatan buang air kecil.
Pertimbangkan untuk menggunakan glucometer di rumah untuk memeriksa kadar gula darah sepanjang hari. Temui dokter untuk mengetahui diet, olahraga, dan rencana pengobatan terbaik untuk membantu menyeimbangkan kadar gula darah.

7. Kontrol kondisi tiroid

Kondisi tiroid sering kali terjadi dan dapat menyebabkan hipotensi. Hipotiroidisme terjadi ketika tubuh seseorang tidak menghasilkan cukup hormon tiroid.
Tes darah sederhana dapat menentukan apakah seseorang menderita hipotiroidisme atau tidak. Pada beberapa kasus, mungkin memerlukan pengobatan dan rencana nutrisi baru untuk membantu meningkatkan fungsi tiroid.

8. Pakai stoking kompresi

Stoking atau kaus kaki elastis dapat membantu mencegah darah berkumpul di kaki. Ini membantu meredakan hipotensi ortostatik atau postural yang merupakan tekanan darah rendah karena terlalu banyak berdiri, berbaring, atau duduk.
Orang yang sering berbaring mungkin memerlukan penyangga kompresi untuk membantu memompa darah dari kaki. Hipotensi ortostatik lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua.

9. Minum obat

Dokter mungkin meresepkan obat untuk membantu mengobati tekanan darah rendah. Beberapa obat yang mungkin akan disarankan dokter untuk membantu mengobati hipotensi ortostatik, di antaranya:
  • Fludrocortisone, yang membantu meningkatkan volume darah
  • Midodrine (Orvaten), yang membantu mempersempit pembuluh darah untuk meningkatkan tekanan darah.
Jika tekanan darah seseorang sangat rendah karena sepsis, obat lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan hipotensi, di antaranya:
  • Agonis alfa-adrenoseptor
  • Epinefrin
  • Norepinefrin
  • Fenilefrin
  • Analog vasopresin
  • Dopamine

10. Mengobati infeksi

Beberapa infeksi bakteri, virus, dan jamur yang serius juga dapat menyebabkan hipotensi. Dokter mungkin dapat mengetahui apakah seseorang memiliki infeksi dengan tes darah. Perawatan dalam mengobati infeksi di antaranya adalah penggunaan antibiotik IV dan obat antivirus.

Kapan Hipotensi Harus Ditangani Dokter?

Dokter biasanya setuju bahwa hipotensi hanya menjadi masalah jika ada gejala. Karena itu, seseorang dengan hipotensi harus menyadari kemungkinan gejala dan obat apa yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah lebih lanjut ketika mereka mulai meminumnya.
Mengalami salah satu gejala hipotensi juga dapat menunjukkan kondisi mendasar yang mungkin perlu ditangani. Hipotensi yang disertai gejala syok merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan darurat.
Pasien mungkin memerlukan pemberian cairan infus, obat, hingga transfusi darah untuk meningkatkan tekanan darah, sehingga mencegah kerusakan fungsi organ.
Setelah tekanan darah stabil, detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan pasien, perlu dilakukan identifikasi dan memberikan pengobatan untuk mengatasi penyebabnya. Misalnya, memberikan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi yang sudah masuk ke dalam darah (sepsis).

Cara Mencegah Hipotensi

Selain cara mengatasi hipotensi, pencegahan kondisi ini juga perlu diketahui. Menghimpun buku Patofisiologi Untuk Teknologi Laboratorium Medis Buku Ajar oleh Muhammad Askar, cara mencegah hipotensi, yakni:
  • Tidak mengangkat benda berat.
  • Tidak berdiri di satu tempat untuk waktu yang lama.
  • Menghindari kontak yang terlalu lama dengan air panas.
  • Minum lebih banyak air, kurangi alkohol. Alkohol menyebabkan dehidrasi dan dapat menurunkan tekanan darah, bahkan jika diminum dalam jumlah sedang. Air mengontrol jumlah darah dalam tubuh dan mencegah dehidrasi.
  • Dokter nantinya juga mungkin akan merekomendasikan minum satu atau dua cangkir kopi atau teh berkafein kuat saat sarapan. Kafein dapat menyebabkan dehidrasi, jadi pastikan untuk minum banyak air dan cairan lain tanpa kafein.
  • Perhatikan posisi tubuh. Lakukan secara perlahan apabila ingin pindah posisi dari berbaring datar atau jongkok ke posisi berdiri. Jangan duduk dengan kaki disilangkan.
  • Berolahraga secara teratur setidaknya 30 menit aktivitas fisik sedang setiap hari. Hindari berolahraga dalam kondisi panas dan lembap.
  • Mengikuti rekomendasi diet, terutama berapa banyak garam yang harus dikonsumsi, agar dapat membantu menghindari gejala hipotensi.
  • Minum obat dapat membantu menghindari gejala dan efek yang mengganggu dari hipotensi.
  • Pilih makanan yang sehat dan ringan untuk membantu menghindari tekanan darah tinggi dan komplikasinya. Pastikan untuk makan banyak buah dan sayuran segar.