Ahli: Beli Suplemen Vitamin C Sama Saja Bunga Uang, Lebih

Suplemen memiliki kadar vitamin C yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penjualan suplemen meroket pada 2020, dan analis memperkirakan tren ini akan berlanjut selama satu dekade. Suplemen vitamin C, khususnya, paling melonjak, di mana Nutritional Outlook melaporkan penjualan meningkat hingga 61,8 persen pada 2020.

Merujuk data dan wawancara ahli, sangat sedikit orang yang perlu mengonsumsi suplemen vitamin, terutama yang memiliki miligram jauh lebih banyak daripada rekomendasi harian. Bahkan, dalam kasus diet tertentu yang bisa menyebabkan rendahnya asupan vitamin C, para ahli yang memikirkan untuk makan lebih banyak sayur dan buah, alih-alih konsumsi suplemen.

“Jika orang benar-benar mengonsumsi semua vitamin C yang beli, maka kemungkinan ada banyak orang yang mengonsumsi vitamin C secara berlebihan,” kata ahli diet terdaftar dan profesor di University of Houston, Kirstin Vollrath, seperti dilansir orang dalamRabu (13/7/2022).

Selain itu, sebuah tim ahli pengobatan independen pencegahan baru-baru ini mengungkap bahwa tidak ada cukup bukti yang menunjukkan konsumsi suplemen makanan bisa mencegah penyakit kardiovaskular. Tim tidak merekomendasikan orang dewasa sehat untuk mengonsumsi suplemen. Saran tersebut tentunya tidak berlaku untuk orang hamil, pasien kronis, anak-anak, dan mereka yang didiagnosis kekurangan vitamin.

Vollrath mengatakan, individu yang mengonsumsi makanan seimbang kemungkinan akan mendapatkan cukup vitamin C melalui makanan seperti kentang, apel, tomat, paprika, dan jeruk. National Institutes of Health (NIH) juga merekomendasikan konsumsi paprika merah atau jus jeruk yang menyediakan vitamin C lebih dari cukup.

Profesor epidemiologi University of Washington, Philippe Hujoel, mengatakan, beberapa diet mode (diet yang tidak memiliki bukti ilmiah) dapat mengakibatkan kadar vitamin C yang lebih rendah. Individu yang menjalani diet karnivora, keto, atau karbohidrat rendah dan makan lebih banyak daging daripada buah-buahan dan sayuran berisiko tidak memenuhi kebutuhan vitamin C harian.

Hujoel juga mewajibkan bahwa konsumsi suplemen bukan solusi terbaik dalam kasus ini. Karena, menurut dia, suplemen cenderung memiliki kadar vitamin C yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan.