Keliru, Foto dan Nama Ahli dalam Iklan Suplemen Mata

sebuah situs memuat iklan suplemen mata Orbitrim, yang diklaim dapat mendeteksi tanpa operasi, serta memuat nama spesialis rehabilitasi mata beserta fotonya.

Iklan tersebut diawali dengan kisah insiden di salah satu pusat penglihatan penglihatan swasta di Bandung, yang menjual produk tersebut. Kemudian tentang kisah keberhasilan formula itu yang menyembuhkan 87 persen kasus tanpa operasi.

Sejumlah nama spesialis mata seperti Andi Hartanto sebagai pusat rehabilitasi penglihatan mata di Bandung. Kedua, nama J. Ahmad sebagai pengembang formula Orbitrim. Salah satu yang merasakan manfaat dari suplemen tersebut, tak lain adalah istrinya sendiri yang bernama Indah.

Tangkapan layar foto iklan Orbitrim yang mengklaim bisa sembuhkan mata tanpa operasi

Benarkah foto-foto yang dimuat dalam iklan tersebut terkait dengan suplemen penyembuh mata, Orbitrim?

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil penelusuran Tempo menemukan bahwa foto-foto yang dimuat dalam iklan obat mata tersebut dicomot dari sejumlah situs. Foto-foto tersebut tidak terkait dengan suplemen Orbitrim. Klaim keberhasilan Orbitrim tersebut juga meragukan karena tanpa Merujuk data yang dapat diperjelas.

Untuk memeriksa foto-foto tersebut, Tim Cek Fakta Tempo menggunakan reverse image tools dari Google, Yandex dan Tineye. Berikut fakta-faktanya:

foto 1

Pemeriksaan fakta foto 1

Dalam artikel tersebut, foto ini diklaim bernama Andi Hartanto, spesialis pusat rehabilitasi penglihatan mata di Bandung, Jawa Barat. Pusat rehabilitasi tersebut diklaim menjual produk obat baru yang telah membantu 87 persen penglihatan pulih tanpa operasi.

Faktanya, foto ini diambil dari dokumentasi perusahaan teknologi NTI yang berbasis di Rusia. Foto tersebut merupakan salah satu narasumber NTI yang merepresentasi potensi pasar Asia pada acara peluncuran akselerator ekspor bagi perusahaan NTI untuk memasuki pasar Asia. Foto ini dipublikasi pada 13 September 2018.

Foto 2

Foto (kiri) adalah hasil editan foto dari Shutterstock (kanan)

Di dalam artikel, foto sebelah kiri diklaim bernama J. Ahmad yang menciptakan formula penyembuh mata tanpa operasi, Obitrim. Faktanya, foto tersebut hasil editan dari situs jual beli foto Shutterstockdengan mengubah bagian kepala, bagian tubuh, warna pakaian, dan latar belakang foto sama bertahan.

Foto asli pada Shutterstock memuat seorang pembicara Asia dengan pengaturan kasual dalam seminar bisnis atau pendidikan. Foto itu merupakan hasil bidikan fotografer Tzido Sun. Selain itu, nama J. Ahmad tidak terdaftar dalam direktori database Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Foto 3

Foto (kiri) adalah hasil editan foto dari Shutterstock (kanan)

Foto kiri diklaim sebagai J. Ahmad. Seperti sebelumnya, foto tersebut hasil suntingan dari Shutterstock yang dimuat 1 November 2021 dengan keterangan, seorang pembicara Asia yang memberikan presentasi tentang bisnis dan pendidikan di salah satu ruang konferensi.

Foto 4

Pemeriksaan fakta foto 4

Foto ini diklaim oleh J. Ahmad, bernama Indah yang dapat membacakan cerita untuk cucu-cucunya tanpa bantuan kacamata, setelah meminum formula tersebut.

Faktanya, foto ini pernah dimuat oleh situs jual-beli foto, Adobe, pada 18 November 2021 dengan keterangan, seorang nenek Asia membacakan dongeng untuk cucunya di rumah. Nenek senang bersantai bersama cucunya menikmati waktu berkualitas di tempat tidur di malam hari.

Dianggap informasi palsu di Taiwan

Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) Thailand menilai Orbitrim sebagai suplemen yang menyembuhkan mata tanpa operasi, adalah informasi palsu. Hal itu dimuat oleh Pusat Berita Anti-Palsu Thailand pada 19 Januari 2021.

FDA meneliti produk dan situs yang mempromosikan suplemen tersebut. Situs yang memiliki ciri khas yang sama dengan di Indonesia, yakni memuat nama dan foto tenaga medis dan institusinya.

Namun setelah berusaha, tidak ada nama tenaga medis dalam database Dewan Kedokteran setempat. Foto-foto tersebut juga dicomot dari internet.

Tempo mengecek nama produk Obitrim di BPOM RInamun juga tidak menemukan produk tersebut dalam database.

Tangkapan layar hasil pencarian produk Orbitrim di laman resmi BPOM.

Penanganan penyakit mata

Menurut Ririn Hardiyanti, dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, setiap penyakit mata memiliki cara penanganan yang berbeda-beda. Ada beberapa penyakit mata yang mungkin bersifat sementara dan akan sembuh dengan sendirinya, tetapi ada juga penyakit mata yang datang secara serius dan seringkali membutuhkan penanganan yang serius pula.

Biasanya dalam pengobatan penyakit mata bisa berbeda-beda berdasarkan penyebabnya. Penyakit mata ringan dapat disembuhkan dengan obat tetes mata atau penggunaan kaca mata.

Namun, jika penyakit seperti glaukoma atau katarak dan sudah dalam kondisi parah maka perlu dilakukan perawatan laser hingga pembedahan atau operasi.

“Jadi bisa dikatakan penanganan penyakit mata tergantung pada penyebabnya. Setiap penyakit berbeda-beda, tergantung hasil diagnosis awal,” kata Ririn saat dihubungi Tim Cek Fakta Tempo, Senin, 25 Juli 2022.

Ririn mengatakan, hingga saat ini belum ada obat yang dapat digunakan untuk mengatasi semua penyakit mata. Pemberiaan obat pada mata biasanya dilakukan setelah diagnosis awal.

Para ahli farmakologi dan dokter mata bahkan akan sangat berhati-hati dalam memberikan obat mata. Hal ini disebabkan karena secara anatomis dan fisiologis, mata memiliki karakteristik yang sangat unik.

Ada banyak hambatan secara statis dan dinamis yang biasanya akan mempersulit proses pemberian obat pada mata. “Pemberian obat mata tidak bisa dilakukan setiap saat, dan tahu saya belum ada satu obat yang bisa menyelesaikan semua penyakit mata. Bagi penderita penyakit mata ringan bisa menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan,” kata Ririn.

KESIMPULAN

Dari hasil pengungkit tersebut, Tempo menyimpulkan foto dan nama spesialis kesehatan dalam iklan suplemen Orbitrim adalah keliru.

Foto-foto yang dimuat dalam iklan tersebut diambil dari sejumlah situs di Internet dan tidak memiliki kaitan dengan suplemen tersebut. Klaim dapat menyembuhkan mata tanpa operasi tidak didukung data yang kredibel. FDA Thailand telah mengetahui informasi tersebut palsu. Di Indonesia, produk tersebut juga tidak terdaftar di BPOM RI.

Ririn Hardiyanti, dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado mengungkapkan, pengobatan setiap mata penyakit berbeda-beda berdasarkan penyebab dan keparahan penyakit.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami.