Kesehatan Mental dan Kesehatan Fisik: Mana yang Lebih Penting?

Tahukah kalian, agar mendapatkan tubuh yang sehat sangat perlu untuk memperhatikan kesehatan fisik juga kesehatan mental pada saat yang sama? Walaupun badan dan pikiran dianggap sebagai dua komponen yang berbeda, sebenarnya keduanya saling berhubungan.

Salah satu contohnya pada masa pandemi ini benak kita dipenuhi oleh pikiran negatif, belum lagi situasi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah membuat badan kita tidak beraktivitas secara sehat semakin memicu timbulnya stres. Stres yang berkepanjangan dan tidak diatasi dapat menurunkan imunitas serta daya tahan tubuh, akibatnya kita akan semakin lebih rentan terhadap penyakit. Hal ini membuktikan bahwa badan dan pikiran saling berkaitan. Dengan demikian, kesehatan mental kita dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan secara fisik. Begitu pula sebaliknya, kesehatan fisik dapat membawa dampak terhadap kesehatan mental.

Apa itu Kesehatan Mental?

Kesehatan mental atau mental health lebih dari sekedar tidak ada cacat atau gangguan mental, lho. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental bukan hanya merupakan keadaan bebas dari penyakit mental, tetapi keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial secara utuh. Hal ini didukung oleh pengertian dari Pieper dan Uden, bahwa kesehatan mental merupakan keadaan dimana seseorang tidak merasa bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, mampu menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

Apa itu Kesehatan Fisik?

Banyak orang memahami bahwa istilah ‘kesehatan’ hanya berkaitan dengan kesehatan fisik saja. Padahal pada kenyataannya, kesehatan fisik hanya merupakan salah satu elemen dari kesehatan total individu dan sama pentingnya dengan kesehatan mental.
Secara sederhana, kesehatan fisik mengacu pada keadaan jasmani individu dan berfungsinya dengan baik seluruh organ luar maupun organ dalam. Namun, dengan meningkatnya perawatan kesehatan, definisi kesehatan fisik juga ikut berkembang menyesuaikan dengan kondisi kehidupan saat ini. Oleh karena itu, kesehatan fisik lebih akurat didefinisikan sebagai kemampuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan kenyamanan dengan tubuh yang dimiliki.

Efek Kesehatan Mental terhadap Kesehatan Fisik

Meskipun kita sering memandang pikiran dan tubuh adalah suatu hal yang terpisah, kesehatan mental dan fisik sebenarnya berkaitan erat satu sama lain. Kesehatan mental yang baik dapat mempengaruhi kesehatan fisik kita secara positif. Begitu pula sebaliknya, kesehatan mental yang buruk dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik Anda. Hal ini diperkuat dengan adanya bukti bahwa penyakit mental itu memberikan efek yang negatif pada kesehatan fisik. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

1. Penyakit Mulut

Orang dengan penyakit mental mempunyai kesehatan mulut yang lebih buruk daripada populasi umum. Bagi mereka yang mengidap penyakit mental, perlu untuk mengonsumsi obat tertentu yang terdapat efek samping. Salah satunya adalah xerostomia. Xerostomia (mulut kering) adalah efek samping dari penggunaan obat psikotropika yang tidak sedikit, termasuk antipsikotik, antidepresan, dan penstabil suasana hati. Pada saat seseorang xerostomia, terjadi pengurangan produksi air liur yang menyebabkan pengalaman tidak nyaman pada penderita. Hal tersebut meningkatkan risiko penyakit periodontal, seperti gingivitis, yang dapat menyebabkan kehilangan gigi.

2. Kelainan Seksual

Orang-orang yang sudah lama mengalami penyakit mental mengalami kesulitan dalam hal yang berkaitan dengan seks, baik dalam menjalin hubungan seksual maupun dalam tingkat kerusakan hubungan yang tinggi. Sexual difficulties dan disfungsi seksual sering juga terjadi di antara mereka yang menderita penyakit mental. Disfungsi seksual telah dilaporkan sebagai yang biasa dialami oleh pria yang memakai obat antipsikotik seperti, olanzapine, risperidone, quetiapine atau haloperidol, dengan efek substansial pada kualitas hidup mereka. Disinhibisi seksual yang dialami oleh beberapa orang dengan gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko kerusakan hubungan dan infeksi menular seksual. Selain itu, seseorang dengan skizofrenia 1,8 kali lebih mungkin untuk tertular HIV/AIDS daripada populasi umum, dan orang dengan diagnosis gangguan depresi 3,8 kali lebih mungkin untuk tertular HIV/AIDS.

3. Merokok

Orang dengan kondisi kesehatan mental lebih mungkin untuk merokok daripada mereka yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental. Di antara perokok, orang dengan kondisi kesehatan mental lebih mungkin untuk merokok lebih banyak. Orang dengan depresi memiliki tingkat dopamin kimia yang lebih rendah. Dopamin memengaruhi perasaan positif di otak. Nikotin dalam rokok memicu produksi dopamin, sehingga merokok dapat digunakan sebagai cara untuk meredakan gejala depresi. Nikotin memang mampu meningkatkan kadar dopamin sementara, tetapi bahan ini juga mematikan mekanisme alami otak untuk membuat zat kimia tersebut. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang merasa seolah-olah membutuhkan lebih banyak nikotin untuk mengulangi sensasi positif ini yang dapat menyebabkan kemungkinan kecanduan.

4. Masalah Tidur

Orang dengan kondisi kesehatan mental lebih mungkin menderita gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea. Insomnia dapat membuat sulit untuk tertidur atau tetap tertidur. Sleep apnea menyebabkan masalah pernapasan, yang dapat menyebabkan Anda sering terbangun. Sekitar 50% hingga 80% orang dengan kondisi kesehatan mental juga akan mengalami masalah tidur. Hanya 10% hingga 18% dari populasi umum yang mengalami masalah tidur. Sementara kondisi seperti depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar dapat menyebabkan masalah tidur, masalah tidur juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang ada.

5. Penyakit Kronis

Depresi telah dikaitkan dengan banyak penyakit kronis. Penyakit ini termasuk diabetes, asma, kanker, penyakit kardiovaskular, dan radang sendi. Skizofrenia juga dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan pernapasan yang lebih tinggi. Kondisi kesehatan mental juga dapat membuat penanganan penyakit kronis menjadi lebih sulit. Tingkat kematian akibat kanker dan penyakit jantung lebih tinggi di antara orang-orang dengan depresi atau kondisi kesehatan mental lainnya.

Efek Kesehatan Fisik terhadap Kesehatan Mental

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan. Kesehatan mental yang baik akan membantu fisik kita untuk tetap sehat juga. Pun dengan kesehatan fisik, kesehatan fisik yang buruk juga akan mempengaruhi kesehatan mental kita dengan cara yang buruk juga.
Dalam hal ini, kesehatan mental kita dipengaruhi oleh hormon yang dilepaskan oleh sistem endokrin. Sistem endokrin ini berkaitan erat dengan otak kita. Contohnya lansia yang memiliki kesehatan fisik yang baik, kapasitas memorinya lebih bagus daripada lansia yang kesehatan fisiknya buruk. Kemudian, kita dapat menemukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki suatu penyakit, sedang sakit, atau sudah didiagnosa memiliki suatu penyakit biasanya akan sedih, kesulitan untuk tidur, cemas, dan lain-lain.
Orang yang sehat cenderung akan bahagia dan senang ketimbang orang yang sedang sakit. Melihat beberapa contoh di atas, dapat dilihat bahwa kesehatan fisik berkaitan dengan kesehatan mental.

Cara Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik

Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental pun sama pentingnya. Keduanya perlu dijaga dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan hidup secara keseluruhan. Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan untuk menjaga kesehatan mental dan kesehatan fisik:
  • Olahraga secara teratur
Berolahraga secara teratur tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga dapat meningkatkan mood kita. Olahraga sederhana seperti naik tangga, jalan kaki selama 10 menit sehari sangat mudah untuk dilakukan. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, lakukan olahraga minimal 30 menit setiap hari.
  • Tidur yang cukup
Tidur pada waktu yang teratur setiap hari. Orang dewasa membutuhkan tidur sebanyak 7 hingga 9 jam setiap malam. Hindari penggunaan gadget sebelum waktu tidur agar dapat tertidur dengan lebih cepat.
  • Menghindari konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang
Konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang memberikan efek negatif pada organ pencernaan dan dapat mengganggu kesehatan otak. Sehingga dapat mengganggu kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Konsumsi dalam jangka panjang, dapat memberikan efek yang lebih parah pada kesehatan fisik dan mental, bahkan hingga kematian.
  • Teknik relaksasi
Teknik relaksasi seperti meditasi, latihan pernafasan, dan fokus pada pikiran kita dapat membantu meredakan stres. Menjadi fokus dalam satu kegiatan pada satu waktu juga dapat membantu pikiran menjadi lebih rileks. Mulailah dengan membawa kesadaran bahkan untuk hal-hal sederhana seperti mandi, makan siang, atau berjalan pulang. Dengan begitu, kita dapat memberikan perhatian pada sensasi fisik, suara, bau, atau rasa dari pengalaman. Teknik ini juga dapat dilakukan ketika mendapati pikiran kita sedang overthinking.
  • Fokus pada hal positif
Cobalah untuk melatih diri untuk fokus pada pengalaman dan emosi yang positif dibandingkan yang negatif. Merenungkan hal-hal yang positif dapat membuat kita merasa bersyukur dan apabila dilakukan secara teratur dapat memberikan manfaat jangka panjang. Temukanlah sesuatu untuk disyukuri setiap harinya.
ENT
  • Meminta bantuan dari orang lain
Berbicara dengan teman dan keluarga dapat membantu meredakan stres. Bantuan dari orang lain ketika sedang mendapatkan kesulitan juga dapat mengurangi beban yang kita pikul.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik saling mempengaruhi. Jadi, penting untuk menjaga keseimbangan dari dua aspek tersebut agar kita mendapatkan tubuh yang sehat serta menjalankan kehidupan sehari-hari dengan lebih optimal.