Sangat Mirip, Bagaimana Membedakan Gejala Awal HIV dan Flu?

 Gejala awal infeksi HIV menimbulkan gejala yang mirip seperti flu. Lantas, bagaimana cara membedakannya?

Infeksi HIV sendiri akan berlangsung dalam beberapa fase.

Pada fase yang paling parah, infeksi akan berubah menjadi AIDS.

Pada fase itu, sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan yang parah.

Namun, gejala yang di timbulkan pada fase awal infeksi HIV terbilang sangat mirip dengan flu biasa.

Akibatnya, tak sedikit orang yang terkecoh.

Beda Gejala Awal HIV dan Flu

Gejala awal HIV akan muncul dalam dua hingga empat pekan setelah terinfeksi.

Berikut beberapa gejalanya?

– demam,
– kelelahan,
– nyeri otot,
– ruam,
– sakit tenggorokan,
– pembengkakan kelenjar getah bening,
– diare,
– sariawan.

Demam, nyeri otot, hingga sakit tenggorokan menjadi gejala infeksi virus lainnya seperti flu, radang tenggorokan, bahkan hingga Covid-19.

Berikut beda gejala awal HIV dan flu.

1. Masa inkubasi
Masa inkubasi virus penyebab flu umumnya berlangsung selama dua hari. Sementara virus HIV memiliki masa inkubasi dua hingga empat pekan.

2. Kelelahan
Baik flu maupun HIV dapat muncul dengan gejala kelelahan. Kelelahan ini sama seperti rasa lelah biasa, bukan sesuatu yang aneh.

3. Sakit tenggorokan
Baik flu dan HIV memicu gejala sakit tenggorokan. Namun, gejala ini memiliki perbedaan di antara dua penyakit.

Pada flu, sakit tenggorokan akan di sertai kemerahan dan pembengkakan di area tenggorokan.

Sementara pada HIV, rasa nyeri akan di barengi dengan pembesaran tonsil tanpa kemerahan serta munculnya bercak putih.

4. Pembengkakan kelenjar getah bening
Kasus flu umumnya tak memicu pembengkakan kelenjar getah bening.

Sementara pada HIV, pembengkakan kelenjar getah bening menjadi gejala yang umum. Pembengkakan biasanya terjadi pada area leher dan ketiak.

Kelenjar ini akan membesar selama minggu kedua dan membaik seiring waktu berjalan.

5. Penurunan berat badan
Kedua kondisi tersebut dapat menekan nafsu makan. Namun, penurunan nafsu makan tampaknya lebih signifikan terjadi pada kasus HIV.

Pada kasus flu, penurunan nafsu makan tak akan memengaruhi berat badan pasien.

Sementara pada kasus HIV, penurunan nafsu makan bisa berlangsung signifikan dan dapat mengakibatkan penurunan berat badan secara tiba-tiba.

6. Sakit kepala
Pada kasus flu, sakit kepala umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari pertama.

Sementara pada kasus HIV, sakit kepala akan terasa lebih intens yang terletak di area mata dan memburuk saat mata bergerak.

7. Lesi mulut
Lesi pada mulut tak umum terjadi pada pasien flu. Sementara pada HIV, lesi mulut umum terjadi.

8. Ruam
Ruam hanya terjadi pada pasien yang mengalami infeksi HIV, tapi tidak dengan pasien flu.

Pada kasus HIV, ruam bisa muncul di hampir seluruh tubuh termasuk telapak tangan, kaki, dan kulit kepala. Daerah yang paling terkena adalah leher dan dada, serta biasanya di barengi rasa gatal. Ruam pada kasus HIV biasanya muncul 48 jam setelah demam dan bisa hilang dengan sendirinya setidaknya dalam waktu seminggu.

3 Gejala HIV pada Pria, Khas dan Perlu Diwaspadai

Infeksi HIV pada dasarnya memicu gejala yang berbeda pada setiap orang. Namun, kaum Adam, perlu mewaspadai beberapa gejala HIV pada pria berikut ini.

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Hal ini membuat orang dengan HIV rentan terhadap penyakit infeksi lain.

HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak dengan darah dan cairan dari tubuh pasien yang terinfeksi. Umumnya, penularan terjadi melalui hubungan seks tanpa kondom, kebiasaan berbagi jarum suntik, transfusi darah, atau dari ibu ke bayi selama persalinan.

Gejala HIV pada Pria
Pada dasarnya HIV memicu gejala yang cenderung sama pada wanita maupun pria di fase awal infeksi.

Namun memang, beberapa pria dengan HIV melaporkan adanya beberapa gejala tambahan. Meski demikian, perlu dicatat bahwa beberapa gejala ini bisa juga menjadi tanda dari kondisi lain.

Berikut beberapa gejala HIV pada pria.

1. Dorongan seks rendah
Dorongan seks yang rendah menjadi salah satu tanda dari hipogonadisme. Kondisi ini terjadi saat testis tak lagi menghasilkan cukup hormon testosteron yang membangkitkan gairan seks.

Selain menurunkan libido, hipogonadisme juga memicu beberapa kondisi lain seperti berikut:

– disfungsi ereksi,
– depresi,
– kelelahan,
– infertilitas,
– menurunnya pertumbuhan rambut di tubuh,
– pertumbuhan jaringan payudara.

2. Luka pada penis
Salah satu gejala umum HIV adalah adanya luka terbuka di area mulut atau kerongkongan. Namun, luka juga bisa muncul pada anus atau penis.

3. Nyeri saat buang air kecil
Dalam kebanyakan kasus, nyeri saat buang air kecil menjadi gejala dari infeksi menular seksual lain seperti gonore atau klamidia. Namun, pada kasus HIV, kondisi ini bisa menjadi tanda pembengkakan prostat atau prostatitis.

Selain nyeri saat buang air kecil, prostatitis juga bisa memicu gejala lain seperti berikut:

– sakit saat ejakulasi,
– lebih sering kencing,
– urine berwarna keruh atau berdarah,
– nyeri pada penis,
– nyeri punggung bawah, perut, atau selangkangan.